Sepakbola perempuan Indonesia bukan bayi yang baru lahir kemarin. Organisasi sepakbola perempuan pertama di bawah PSSI sudah berdiri sejak era 1970-an. Namanya, Galanita. Timnas Perempuan Indonesia pernah punya masa kejayaan yang cukup untuk disebut “disegani di Asia.”
Tim seperti Buana Putri, yang dijuluki ratu sepakbola perempuan Indonesia medio 70–80an, pernah benar-benar ada. Mereka benar-benar berkompetisi. Dan, mereka berhasil menangguk kisah-kisah kejayaan.
Beberapa dari kita mungkin masih ingat, dalam salah satu film Warkop DKI berjudul Maju Kena Mundur Kena (1983). Film yang muncul di tengah popularitas jargon era Orde Baru “memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat” ini di puncak ceritanya menampilkan pertandingan Parkit melawan Buana Putri. Dono, yang bermain untuk Parkit, menyamar sebagai pesepakbola perempuan di film itu.
Buana Putri kala itu cukup dikenal, bahkan mungkin sangat populer, sampai bisa dijadikan “bintang tamu” film komedi sekelas Warkop DKI pada masa kejayaannya. Klub yang pernah menembus peringkat empat kejuaraan Asia di Hong Kong ini bukan sekadar figuran budaya; ia cukup hidup di benak publik untuk masuk ke layar bioskop kala itu.
Tapi coba tanyakan perihal Buana Putri kepada generasi yang lahir setelah 1990-an.
Kegagalan Rantai dan Runtuhnya Ekosistem
Sepakbola perempuan Indonesia pernah populer. Tapi popularitas tanpa dokumentasi adalah ingatan yang menunggu untuk dilupakan. Tidak ada arsip yang dijaga, tidak ada narasi yang diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Jurnalisme seharusnya mengerjakan itu —dan selama beberapa dekade, ia memilih tidak.
Tapi kesalahan tidak bisa sepenuhnya ditaruh di meja redaksi. Sebab, sebelum media memilih untuk tidak meliput, ada sesuatu yang lebih fundamental yang sudah terlebih dahulu runtuh: ekosistemnya sendiri.
Galanita, organisasi yang selama bertahun-tahun menjadi tulang punggung sepakbola perempuan nasional, perlahan kehilangan fungsi dan ruangnya di bawah struktur PSSI. Ia diparkir sejak 1993. Tanpa organisasi yang serius mengurus kompetisi dan pembinaan, sepakbola perempuan kehilangan ritmenya. Dan tanpa ritme —tanpa jadwal pertandingan, tanpa klasemen yang bisa diikuti, tanpa musim yang punya awal dan akhir— media pun kehilangan sesuatu yang paling fundamental: peristiwa untuk diliput.
Ini yang membuat persoalannya menjadi lebih gelap. Ini adalah kegagalan rantai. Federasi memutus ekosistem, publik kehilangan objek perhatian, media kehilangan alasan untuk hadir. Ketiganya saling mengunci. Ketika semua pihak bisa menunjuk pihak lain sebagai sumber perkara, tidak ada yang merasa perlu bergerak duluan.
Namun, di sinilah jurnalisme seharusnya punya peran yang berbeda dari aktor lainnya. Sponsor bisa pergi kalau tidak ada antusiasme penonton. Federasi bisa berkilah soal anggaran. Tapi jurnalisme yang baik justru seharusnya hadir karena ada yang runtuh —untuk mendokumentasikan keruntuhan itu, mempertanyakannya, dan menjaga ingatan publik tetap hidup bahkan ketika tidak ada pertandingan yang bisa diliput.
Memasuki 2019–2022, ada perubahan —tapi sayangnya bukan seperti yang kita harapkan. Piala Dunia perempuan 2019 di Prancis menghasilkan lebih dari satu miliar penonton global. Liputan mulai muncul. Hanya saja, cara meliputnya sering kali bermasalah.
Kamu bisa merasakannya dari judul-judul yang dipilih.
Ketika pemain laki-laki mencetak gol, judulnya berbunyi: nama, aksi, hasil. Ketika pemain perempuan tampil bagus, judulnya sering berbelok ke arah lain: penampilan, kecantikan, “keberanian” sebagai perempuan yang memilih olahraga keras. Framing seperti ini secara halus tapi konsisten menyampaikan satu pesan: kamu boleh ada di sini, tapi kamu tetap anomali yang perlu dijelaskan, bukan sebagai atlet yang perlu dianalisis.
Riset tentang media olahraga global sudah mendokumentasikan pola ini panjang lebar. Dalam liputan olahraga, media cenderung menekankan kemampuan atletik laki-laki dan pencapaian mereka, sementara liputan perempuan lebih sering berpusat pada faktor non-atletik. Indonesia bukan pengecualian. Kita hanya pelaku yang lebih jarang diteliti.
Lalu mengapa ini terjadi? Ada godaan untuk menyalahkan individu: editor yang bias, jurnalis yang tidak peduli. Tapi realitasnya lebih rumit dari itu, dan justru karena rumit, jadi lebih sulit diubah.
Pertama, desk olahraga –utamanya sepakbola– di media Indonesia secara historis didominasi laki-laki, baik jurnalis maupun editor. Keseragaman perspektif menghasilkan keseragaman agenda. Kalau tidak ada yang bertanya “bagaimana dengan perempuan?” di rapat redaksi pagi, pertanyaan itu tidak akan pernah muncul sendiri.
Kedua, dan ini yang paling telak: logika klik. Media daring hidup dan mati dari trafik. Selama bertahun-tahun, sepakbola laki-laki menghasilkan klik yang jauh lebih banyak. Angka itu dijadikan bukti bahwa “publik tidak tertarik dengan sepakbola perempuan.” Tapi ini adalah ramalan yang menggenapi dirinya sendiri. Audiens tidak terekspos, jadi tidak tertarik. Karena tidak tertarik, tidak diliput. Karena tidak diliput, audiens tidak terekspos. Berputar terus, tidak ada yang mempertanyakan titik awalnya.
Ketiga, tidak ada kompetisi reguler yang bisa dijadikan bahan baku berita harian. Liga 1 Putri bergulir tidak konsisten dan tanpa ritme kompetisi, sulit membangun narasi berkelanjutan yang membuat publik merasa perlu mengikutinya.
Titik balik datang pada 2023, ketika Kumparan meluncurkan Bolanita —kanal media digital pertama di Indonesia yang sepenuhnya didedikasikan untuk sepakbola perempuan. Ini bukan sekadar penambahan rubrik. Ini pernyataan editorial: bahwa sepakbola perempuan bukan suplemen yang ditambahkan jika ada ruang sisa, melainkan subjek yang layak mendapat sumber daya tersendiri.
Hasilnya membantah semua asumsi lama sekaligus. Keterlibatan audiens terhadap liputan Timnas Perempuan, dalam beberapa kesempatan, bahkan melampaui konten sepakbola laki-laki di platform yang sama. Partisipasi sekolah sepakbola akar rumput perempuan meningkat. Nama-nama pemain yang selama bertahun-tahun beroperasi dalam anonimitas mulai punya wajah dan cerita di ruang publik.
Tapi kita perlu jujur di sini: Bolanita adalah satu kanal, bukan satu sistem. Ia membuktikan bahwa pasarnya ada tapi tidak secara otomatis mengubah cara kerja ratusan media lain yang masih beroperasi dengan asumsi lama. Dan kanal ini pun menghadapi tantangan nyata: tanpa kompetisi reguler, tidak ada kalender editorial yang bisa diandalkan. Tanpa sponsor yang serius di ekosistem sepakbola perempuan, sulit membangun keberlanjutan finansial jangka panjang.
Dan, yang sering luput dari diskusi ini adalah biayanya. Bukan biaya produksi konten tapi biaya yang ditanggung oleh para pemain.
Bayangkan karier delapan tahun seorang pemain perempuan Indonesia: latihan, kompetisi, mungkin membela Timnas, mungkin memenangi beberapa gelar. Delapan tahun itu berlalu hampir tanpa rekam jejak yang berarti di media nasional. Tidak ada profil. Tidak ada analisis permainan. Tidak ada cerita tentang perjuangan di balik layar.
Kelak, ketika ia pensiun, tidak akan ada retrospektif. Sebab, untuk bisa dikenang, seseorang harus terlebih dahulu dikenal. Ini bukan skenario hipotetis. Ini kenyataan bagi mayoritas pemain perempuan Indonesia yang berkarier dalam satu dekade terakhir.
Ada pertanyaan yang lebih besar di balik semua ini: apakah pergeseran framing yang kita saksikan sekarang —kemunculan Bolanita, meningkatnya konten kreator independen tentang sepakbola perempuan, antusiasme pasca-Piala Dunia perempuan 2023— adalah perubahan yang genuine dan berkelanjutan, atau sekadar respons oportunistik terhadap tren global yang akan surut begitu momentum berlalu?
Jawabannya belum ada. Namun, pilihan akan tetap selalu ada.
Media bisa terus menggunakan “publik tidak tertarik” sebagai tameng, sementara mengabaikan fakta bahwa Bolanita sudah membuktikan sebaliknya. Atau, mereka bisa mengakui bahwa selama satu dekade, bukan publik yang tidak tertarik melainkan mereka yang tidak pernah benar-benar mencoba.
Piala Dunia perempuan 2023 ditonton lebih dari dua miliar kali secara global. Di Indonesia, skena sepakbola perempuan punya basis komunitas yang tumbuh tanpa diundang —kolektif suporter, forum diskusi, hingga akun Twitter yang mengikuti skor secara real-time— semuanya lahir bukan karena media memandu mereka, melainkan justru karena media tidak hadir.
Artinya publik sudah bergerak duluan. Dan, yang masih menunggu sinyal untuk ikut bergerak, barangkali, adalah media itu sendiri.[]
Rujukan:
A’yuni, N.Q. (2025), Jurnal Komunikasi Indonesia, UI; Yunisal & Rismayanti (2019), Jurnal Olahraga; Muliawan (2021), kumparanBOLANITA (2023–2025).