Kepada Joko Pinurbo

Saya berkenalan dengan Joko Pinurbo lewat sebuah buku puisi berjudul Kepada Cium. Salah satu puisi di dalam buku tipis itu menjadi puisi favorit saya sepanjang masa. Alasannya sederhana, tiap saya membaca lagi puisi tersebut, seperti ada yang tiba-tiba hidup di dalam hati saya. Saya seperti dituntun untuk merasakan kembali sensasi yang muncul ketika pertama kali membaca puisi tersebut. Dan, itu sungguh membahagiakan.

“Dada saya selalu ngilu rasanya tiap kali membacanya, Mas,” kata saya.

Mas Jokpin cuma cengar-cengir saja ketika saya bilang begitu. Saat itu, sekitar tahun 2016, kami bertemu di Cikini. Ia baru saja mengisi kelas penulisan puisi. Saya memberikan buku puisi perdana saya yang baru terbit beberapa bulan lalu. Kami sempat mengobrol sebentar soal puisi favorit saya itu dan berkali-kali saya mengucapkan terima kasih kepadanya.

Seperti pisau yang pelan-pelan

dicabut dari cengkeraman luka.

(Seperti Apa Rasanya Terbebas dari Dendam Derita?)

Saya suka sekali dengan puisi pendek ini. Meski terlihat sepele, puisi ini seperti menawarkan sensasi yang tak kunjung selesai. Seperti pisau yang pelan-pelan dicabut dari cengkeraman luka. Ada penderitaan yang tak usai begitu saja ketika saya mengucapkan kata terakhir dalam puisi tersebut. Dan, kebetulan kata terakhirnya adalah: luka.

Saya merasakan siksa batin berjilid-jilid meski puisi tersebut selesai hanya dengan delapan kata.

Buat saya, tak mudah untuk menulis puisi pendek. Lebih tepatnya, mungkin saya tidak kuat untuk merasakan penderitaan yang terlalu lama. Hati saya terlalu amoh seperti gembus. Sebab, saya percaya puisi pendek –terlebih puisi pendek yang menerbitkan sensasi getir setelah membacanya– pasti lahir dari penderitaan yang sangat panjang. Dengan demikian, mudah saja bagi saya untuk menobatkan puisi Jokpin ini sebagai puisi terbaik sepanjang masa dan telah menjadi monumen di dalam hati saya.

KEPADA CIUM

Di luar kehadiran puisi pendek soal dendam derita tadi, buku puisi Kepada Cium ini memang menjadi favorit saya dari semua buku kumpulan puisi Jokpin lainnya. Buku ini yang mengajari saya bagaimana mendekati sebuah puisi.

Sebelum berkenalan dengan puisi Jokpin, saya lebih dahulu berkenalan dengan puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Lewat Sapardi, saya belajar bagaimana mencari tenaga dan mengolahnya menjadi sebuah puisi. Saya juga menemukan sebuah suara yang lembut dan sederhana dalam puisi-puisi Sapardi.

Dan, Jokpin membawa saya lebih jauh lagi ke dalam jantung puisi. Lewat buku Kepada Cium.

Buku ini tipis saja, dengan sampul bergambar daun pisang. Di dalamnya ada 30 puisi: ada yang pendek, ada yang panjang, tapi nggak panjang-panjang amat. Sekali duduk bisa selesai dibaca. Namun, saya merasa hati saya kesemutan selamanya.

Buku ini diawali dengan sebuah puisi tentang bocah yang mau pamit pergi ke kamar mandi. Saya terpikat dengan dunia yang Jokpin bangun di puisi ini. Saya takjub dengan bait “gembong sepi nan gondrong rambutnya”. Mungkin yang dimaksud Jokpin adalah gendruwo. Saya takut sekali dengan gendruwo. Dan, sewaktu kecil tidak pernah berani ke kamar mandi sendirian di malam hari. Saya selalu minta abang saya untuk menunggu di depan pintu kamar mandi sambil terus memanggilnya agar saya tahu dia tidak pergi. Bagi saya, menggunakan kata “gembong sepi” untuk menjelaskan gendruwo sungguh gokil.

Lalu berlanjut ke puisi berikutnya. Puisi yang menerbitkan rasa hangat di dalam dada. Bercerita tentang seorang ayah dan telepon genggamnya. Soal ingatan masa kecil yang haru dan menyenangkan. Saya suka sekali puisi-puisi Jokpin yang bermain di wilayah semacam ini. Ia memakai bahasa yang lugu dan sederhana.

Melompat beberapa halaman, saya menemukan puisi yang diakhiri dengan bait ini.

Ibucinta terlonjak bangkit dari sakitnya.

Diraihnya tubuh kecil itu dan didekapnya.

Berilah kami rejeki pada hari ini

dan ampunilah kemiskinan kami…

(Harga Duit Turun Lagi)

Ini adalah adegan pamungkas dari sebuah puisi yang bercerita tentang iman dan kemiskinan. Dua baris terakhir menghantam hati saya dengan sangat keras. Bila dibaca secara utuh, ini adalah puisi yang sangat getir dan gelap. Pendekatan religius yang dipakai untuk menuntaskan cerita soal kemiskinan menambah daya singup dalam puisi tersebut.

Dan, bagi saya, puisi-puisi semacam ini yang menjadi tulang punggung dari karya-karya Jokpin.

Maju bertahun-tahun kemudian, setelah malam di Cikini tersebut, saya mengirim pesan kepada Fahri Salam. Saya bilang, saya mau ke Yogya. Pada hari Kamis pagi, saya melihat postingan di Twitter yang mengabarkan kalau Mas Jokpin sedang sakit. Dalam postingan tersebut, Mas Jokpin sedang diberi sakramen perminyakan. Hati saya ketar-ketir.

“Bang, Senin aku mau ke Yokya. Aku ambil cuti panjang. Mau tilik Jokpin. Nanti temani ke rumahnya, ya,” begitu isi pesan saya.

Dua hari kemudian, Sabtu pagi tadi, saya terbangun sekitar jam 11.30. Bang Fahri mengirim pesan, bertanya apakah saya sudah bangun. Ia mengutip pesan saya soal rencana mau tilik Jokpin. Saya jawab, baru bangun. Perasaan saya tiba-tiba kurang enak. Dan, benar, di Twitter sudah ramai berita kalau Jokpin sudah meninggal dunia. Sedih sekali rasanya.

Saya teringat perjumpaan terakhir kali dengan Mas Jokpin. Saat itu, pada masa pandemi, teman-teman menggagas acara untuk mengumpulkan donasi untuk membantu teman-teman sesama penulis yang sedang kesusahan akibat masa pagebluk. Saya ada di sesi mengobrol dengan Mas Jokpin. Di sesi tersebut, kami saling mengobrol soal puisi. Senang sekali rasanya.

Di momen terpisah, beberapa kali Jokpin juga mengutarakan harapannya untuk bisa bikin tur puisi bersama. Saya terlalu pemalu untuk mengiyakan sungguhpun hati ini sebetulnya kepengin juga. Sepertinya lucu juga kalau bisa terwujud. Namun, tentunya harapan itu mesti berakhir. Sayang sekali.

Selamat jalan, Mas Jokpin. Ibadah puisimu telah tunai dan pungkas. Namun, tentu saja, ia abadi.