SETIAP ORANG lahir dengan nama besar. Saya pernah punya teman zaman SMP bernama Jauhari, atau lebih beken dengan nama Johar. Ia seorang kombatan tawuran dan sering kena masalah di sekolah kami. Suatu hari ia pernah kedapatan membawa buntut ikan pari dan gir motor ke sekolah. Hari lainnya, ia digelandang ke ruang kepala sekolah karena ketahuan sedang teler saat pelajaran Fisika.
Itu hari terakhir dia di sekolah kami.
Johar berumur pendek. Saat teman-teman sebayanya sedang mulai menapaki jalan baru menuju asyiknya masa SMA, hidup Johar malah selesai dalam sebuah drama adu balap sepeda motor di jalanan. Saya, bersama beberapa teman zaman SMP, ikut mengantar Johar ke liang kubur. Saya sempat menyaksikan namanya sedang dituliskan di sebuah papan kayu. Nama besar yang disandang seorang remaja biasa, yang belum sempat menekuni apapun untuk menjaga kebesaran namanya.
Seandainya Johar diberi kesempatan hidup lebih lama, tentu ia akan dikenal sebagai nama besar. Nama aslinya, Jauhari, mungkin pemberian ayahnya yang kebetulan bekerja sebagai pedagang emas kaki lima. Tapi saya tahu namanya mengandung arti cerdik cendekia.
Nama-nama seperti Jauhari, dan semua nama orang yang ada di dunia adalah nama-nama besar. Seiring perjalanan hidup, nama-nama itu akan menjadi kerdil dan sepele lalu dilupakan begitu saja. Nama-nama itu melekat pada pribadi-pribadi dan pribadi-pribadi inilah yang menentukan apakah ia akan tetap besar dan layak dikenang atau bahkan dikutuk sepanjang sejarah peradaban manusia.
Jauhari yang saya kenal mungkin sudah pergi dari dunia fana ini tanpa melahirkan apapun selain duka seumur hidup bagi kedua orang tuanya. Namun, Jauhari yang lain lagi, yang mungkin Anda kenal, barangkali sekarang sedang tekun mengakali sebonggol pisang agar memiliki energi yang bisa digunakan untuk mendamaikan negara-negara yang sedang berperang.
Saya tahu ada Jauhari lain yang pernah hidup di Eropa pada abad 18 dan menjalani peran hidupnya sebagai seorang ilmuwan dan penemu. Sejarah mencatatnya dengan nama Faraday. Michael Faraday.
Nama Besar dan Mass Media
MELOMPAT BEBERAPA tahun kemudian, saya berada di Yogya untuk menekuni studi kehampaan. Di sela-sela kegiatan studi itu, saya menjajal kegiatan lain buat mengisi kemerdekaan dengan menulis puisi. Saya punya beberapa puisi yang sudah selesai dan membayangkan betapa asyiknya jika puisi-puisi itu dimuat di sebuah mass media. Mulut siapapun yang cerewet memberi petuah tanpa diminta soal pilihan-pilihan hidup saya, akan saya sumpal satu per satu pakai gulungan koran atau majalah yang memuat puisi-puisi saya.
Angan-angan indah ini buyar setelah saya sadar dan merasa tak akan ada mass media yang sudi memuat puisi-puisi saya. Saya baru menekuni puisi kemarin sore dan tentu puisi-puisi itu tak akan muncul di mass media besok pagi. Kalaupun si redaktur punya rasa iba dan akhirnya memuat puisi saya, ah saya kira kalaupun betul si redaktur punya rasa iba tentu ia akan memberikan upah begitu saja buat saya tanpa perlu memuat puisi-puisi saya.
Apakah saya mesti mengirimkan puisi-puisi saya dengan mencomot nama Prabowo Subianto untuk mendapat atensi dari redaktur?
Namun, setelah saya pikir masak-masak, rasanya sah-sah saja jika redaktur sastra tak melirik nama-nama baru yang asing terdengar. Tidak ada yang salah dengan perbuatan itu. Dan, perbuatan itu tidak perlu dimintai pertanggungjawaban profesional selayaknya seorang dewan juri.
Mass media perlu ongkos besar untuk sekali terbit. Ia juga pengin punya pelanggan yang banyak dan bertambah banyak setiap hari agar tetap bisa terbit. Para pelanggan ini pengin membaca berita-berita jaminan mutu yang dibikin oleh wartawan betulan, cakap menulis, bertanggungjawab, dan setia mengabdi kepada kebenaran.
Ini berlaku pula untuk rubrik-rubrik pemanis seperti fiksi atau puisi. Rubrik ini perlu pembaca setia dan militan yang bisa melambungkan traffic di akhir pekan.
Nama-nama besar menjadi jaminan mutu serta traffic sehingga mass media tak perlu takut kehilangan pembaca dan ditinggalkan pelanggan lalu bangkrut. Nama-nama besar memang bukan satu-satunya perihal yang bisa digunakan buat mengukur kualitas karya. Ada kalanya nama-nama besar ini bisa menelurkan karya yang jelek saja belum. Ini wajar belaka, dan sering terjadi.
Namun, sekali lagi bung dan nona, tidak ada yang salah bila redaktur tetap meloloskan karya itu atas pertimbangan nama besar.
Dan, saya percaya, nama saya dan nama siapapun tidak akan menjadi kerdil hanya karena mass media selalu menolak puisi-puisi obskur ini. Saya malah menjadi kerdil jika terus menganggap mass media adalah satu-satunya wahana untuk mengenalkan puisi-puisi saya.
Satu-satunya cara ya dengan terus membikin puisi tanpa khawatir apakah ia akan menemukan pembaca atau tidak.
Lagipula, di zaman ini, pembaca sangat mudah ditemukan. Mereka akan datang sendiri. Peradaban maju sudah melahirkan teknologi tingkat tinggi yang bisa membuat semua orang punya media sendiri. Mulai dari facebook, twitter, youtube, hingga wordpress atau medium. Wahana-wahana media sosial semacam itu akan lebih mendekatkan si penulis dengan pembacanya yang juga memiliki wahana sendiri.
Mereka yang akhirnya menemukan dan membaca karya saya di media sosial juga punya nama besar dan ketekunannya sendiri dan saya tentu saja tak lebih spektakuler dari mereka hanya karena saya berperan sebagai penulis puisi dan mereka adalah pembaca. Saya dan mereka ada pada level yang setara dan bisa berdialog, sesuatu yang tak mungkin terjadi bila puisi-puisi saya dimuat di mass media – ia punya ruang kuasa sendiri dan bersifat elit.
Di luar itu, saya bisa berkumpul dan membikin ruang sendiri bersama teman-teman, mengikuti sayembara atau perlombaan, menjalin korespondensi dengan teman senasib di daerah-daerah jauh, saling belajar, apapun itu yang penting tekun dalam berkarya.
Seiring waktu dan ketekunan, saya percaya, puisi-puisi saya tak perlu tampil di mass media terlebih dahulu untuk kemudian bisa bertahan di kerasnya dunia yang fana ini. Tampil di mass media adalah perkara sepele, sungguh, tak ada yang istimewa selain untuk memuaskan ego pribadi yang tingginya sampai membikin kepala siapapun yang melihatnya akan ndheglak.
Namun, yang perlu digarisbawahi, ada tempat khusus di hati saya bagi mereka yang tekun dan sabar mengirimkan karyanya ke mass media agar bisa dimuat demi upah yang tak seberapa itu. Upah untuk menyambung hidup sehari-hari. Upah untuk menambahi ongkos makan, beli udud, atau beli obat untuk sakit lambung. Tentu ini bukan perkara sepele.
Saya selalu berdoa agar karya-karya mereka segera dibukukan dan menjelma jadi buku laris, atau kalaupun menyerah karena kelaparan, semoga mereka segera menemukan pintu rejeki di keahlian lain.
Amin saya dari hati yang paling dalam.
Setiap orang lahir dengan nama besar. Bagi saya, mereka-mereka ini punya nama yang sama besarnya dengan penyair-penyair mana pun yang puisi-puisinya selalu tampil di mass media. Nama-nama besar mereka tak akan menjadi kerdil hanya karena puisi-puisi mereka tak pernah menghiasi lembaran-lembaran koran di akhir pekan.




