Seekor Kucing dan Bunga Krisan

Saya tertawa. Saya jawab, saya punya sertifikat untuk mempraktikkan teknik mengisi pikiran dengan hal-hal omong kosong dan saya dapat sertifikat itu setelah saya belajar sampai 8 tahun di sebuah kota bernama Yogyakarta. Dan, saya dikirim oleh negara saya ke kota ini agar pikiran saya semakin penuh dengan omong kosong, salah satunya dengan cara melamun. 

Ia pun tertawa.

Kiku baru dua hari di kota ini buat berlibur akhir pekan. Ia berasal dari Osaka. Hari itu adalah hari terakhir Kiku di sini. Ia ingin berendam air panas di Dogo sebelum pulang ke Osaka besok pagi. Dalam perjalanannya menuju Dogo dengan bersepeda, ia mampir ke sebuah minimarket. Di sana,  ia bertemu saya yang sedang makan arem-arem sore itu. 

*

SAYA tiba di Matsuyama pukul 5 sore setelah hampir seharian naik kereta dari Tokyo. Perlu naik dua jenis kereta untuk sampai ke sini: dari Tokyo naik kereta super cepat dan berhenti di Okayama kemudian lanjut naik kereta biasa yang akan menyeberangi sebuah selat kecil menuju Pulau Shikoku, pulau terkecil di antara empat pulau lain di Jepang. Di bagian barat pulau inilah Matsuyama berada.

Kamu perlu naik trem satu kali, kata lelaki itu. Trem nomor 5 dan berhenti di Okaido. Lelaki itu  adalah Pak Shinji, pemilik penginapan yang akan saya singgahi selama di kota ini. Saya menghubunginya lewat telepon setelah tak bisa menahan rasa haru dan hampir menangis karena tak sanggup membaca jalur-jalur kereta yang ada di sebuah peta.

Pak Shinji mengelola penginapan ini bersama istrinya, Bu Yuki. Mereka adalah pasangan muda, usianya sekitar 35 tahunan. Bu Yuki bekerja di sebuah kedai kari yang juga menyediakan minuman hangat di sekitaran pasar turis dekat Dogo Onsen. Sedangkan Pak Shinji sehari-hari cuma main gitar klasik sambil mengurus tamu-tamu yang menginap. Ia suka musik Bossanova dan bisa memainkannya sampai lupa diri.

“Siapa penyanyi dari negaramu yang paling kamu suka?” tanyanya.

Tentu saja saya menjawab: Iwan Fals. Saya putarkan sebuah lagu milik Bang Iwan di Youtube. Judulnya Sunatan Massal. Pak Shinji terlihat senang mendengar Sunatan Massal. Ia bilang irama musiknya menerbitkan suasana gembira di hatinya. Meski baru berjumpa kemarin sore, membicarakan musik di pagi itu bikin kami akrab seperti kawan lama dan saya mendapatkan keramahan berupa setoples kue jahe bikinan Bu Yuki sepaket dengan secangkir teh panas yang sedap. Saya memberinya dua bungkus Indomie goreng sebagai bentuk terima kasih.

Obrolan kami berhenti ketika ia mesti mengantar istrinya bekerja. Sebelum mereka pergi saya bertanya di mana tempat untuk melamun. Maksud saya, tempat untuk merokok. Persisnya, merokok sambil melamun. Pak Shinji menunjuk sebuah bangku kecil di teras depan.

Di penginapan Pak Shinji, saya tinggal di lantai 2, di sebuah kamar besar yang disulap menjadi semacam barak dan bisa muat sampai delapan ranjang susun yang dibikin dari kayu. Jendela di sisi sebelah selatan menghadap ke sebuah jalan kecil. Ada komplek kecil kuburan persis di belakang penginapan ini. Saya tahu karena melongok lewat jendela yang ada di sisi utara. Ranjang saya ada di sisi ini, ranjang susun nomor 8.

Tak ada orang selain saya sampai hari kedua. Pagi itu saya masih kedinginan dan malas beranjak dari kasur dan saya dengar Pak Shinji bercakap-cakap dengan seseorang di kamar ini. Saya tak paham-paham amat bahasa Jepang lisan tapi saya tahu Pak Shinji sedang menjelaskan hal ihwal tata tertib menginap karena lawan bicaranya selalu mengatakan: Baik, saya mengerti.

Orang itu memakai ranjang susun nomor 1 dan saya tak pernah tahu siapa dia hingga saya bertemu Kiku.

“Saya juga menginap di tempat itu,” katanya.

Selama dua hari di kota ini Kiku sudah mengunjungi banyak tempat; kastil, pasar seni, museum, pusat jajan, hingga taman kota. Dan, ia bilang, selalu melihat saya duduk melamun di bangku teras ketika ia mulai pergi keluyuran di pagi hari dan kembali ke penginapan Pak Shinji pada sore hari. 

Siang hari itu, sebelum ia tak sengaja bertemu saya di minimarket, ia mengobrol dengan Pak Shinji. Mereka membicarakan saya: pemuda yang datang dari jauh cuma buat melamun di teras. Kiku tahu saya tertarik dengan haiku dari obrolan itu. Ia berencana mengajak saya ke suatu tempat.

“Bar haiku,” katanya.

“Ada bar semacam itu di kota ini?” tanya saya.

“Tentu.” 

“Kamu mau ke sana bareng setelah saya kembali dari Dogo?”

“Dengan senang hati.”

*

KAMI sedang berkumpul di ruang utama ketika Kiku pulang pada pukul 6 sore. Pak Shinji dan Bu Yuki bikin spaghetti, dan saya mengutak-atik mesin penghangat biar panasnya pas. Di atas meja makan, ada sekotak nasi kari ayam seharga 400an yen yang saya beli di Family Mart: minimarket yang selalu terbuka bagi siapa saja yang sedang jauh dari keluarga.   

Pak Shinji berkata sesuatu dalam bahasa Jepang saat ia melihat Kiku. Kiku, yang tengah membungkuk untuk meletakkan sepatunya di sebuah rak, tertawa. Bu Yuki ikut tertawa. Saya cuma bisa mengerti mereka saling mengucapkan salam selamat datang dan selebihnya cuma kedengaran wa-we-wo. Saat hendak naik tangga, Kiku memanggil saya dan menunjukkan lima jari di tangan kanannya dan dua jari di tangan kirinya dan berkata sesuatu. Saya mendengarnya: siji!

Saya mengacungkan jempol saja.

Kiku pikir ia salah masuk rumah, kata Bu Yuki sambil meletakkan sepiring spaghetti di atas meja makan. “Ia tak melihatmu di teras saat masuk tadi.”

Kali ini saya yang tertawa. Sambil membuka kotak nasi kari ayam di depan saya. 

*

KAMI pergi ke bar yang diceritakan Kiku dengan berjalan kaki. Jarak antara penginapan Pak Shinji dan bar itu tak sampai satu kilometer. Kami melewati deretan warung dan pertokoan di sepanjang sisi kanan dan kiri jalan kecil selebar lima meteran hingga bertemu sebuah jalan besar dengan jalur trem di tengahnya, lalu menyeberangi jalan besar itu dan masuk lagi ke jalan yang lebih kecil yang juga terdapat deretan warung dan pertokoan. Dan, kami sampai di sebuah persimpangan. Ada bangunan berlantai tiga dengan dinding bata merah di situ. Bar yang diceritakan Kiku ada di dalam bangunan itu. 

Lihat kucing itu! Kiku berseru kegirangan. 

“Ooii, kucing!”

Si kucing yang ada di seberang jalan itu tampak bodo amat. Ia sedang bermalas-malasan di depan pintu sebuah kedai yang menjual sake dan sashimi. Kucing gemuk berkelir hitam dan putih itu adalah kucing pertama yang saya lihat sejak saya datang ke Jepang sebulan lalu. 

Saat singgah di Tokyo beberapa hari, saya tak melihat kucing barang seekor. Di Iga, saya juga tak melihat kucing padahal saya tinggal di sana selama 3 minggu dan hampir setiap hari saya selalu keluyuran. Mungkin selama saya di Iga, kucing-kucing itu sedang menyamar menjadi grafiti, daun-daunan, kue mochi atau gantungan kunci. Barangkali ibu-ibu murah senyum penjual takoyaki di pasar itu adalah seekor kucing. Siapa yang tahu. Iga adalah perkampungan shinobi dan siapa pun yang ada di sana pasti pandai menyamar. 

Saya senang akhirnya bisa melihat kucing yang tidak pandai menyamar di Jepang. Dan, kucing yang tidak pandai menyamar pertama yang saya lihat muncul di Matsuyama: kota terlama yang akan saya singgahi selama saya berada di Jepang. 

Masuk ke bar itu, kami disambut oleh Chieko, seorang bartender yang sehari-harinya bermain musik jazz. Ia menyodorkan selembar kertas dan pensil kepada kami untuk ditulisi haiku. Haiku ini nantinya akan ia jadikan resep untuk membikin minuman. Jadi seorang bartender, bermain musik jazz, dan meramu minuman dari sebuah haiku adalah alasan mengapa Chieko terlihat selalu riang gembira.

“Tulislah sebuah haiku,” kata Kiku.

“Saya tak bisa bahasa Jepang,” jawab saya. 

“Bahasa Inggris tidak masalah.”

“Haiku soal apa?”

“Apapun yang menggembirakan. Sebab kita akan meminumnya.”

“Kamu akan menulis soal apa?”

“Saya enggak bisa.”

“Maksudmu?”

“Saya mengajakmu ke sini karena saya enggak bisa bikin haiku.”

“Na-ni?”

Kiku tertawa gembira sekali ketika ia mendengar jawaban saya. Ia tertawa seperti seseorang yang tak punya agama.

Saya ingat sebelum kami pergi ke bar ini, Kiku sempat pergi berendam di Dogo. Sebuah kolam pemandian kemudian muncul di pikiran saya. Saya juga ingat ketika kami pertama kali bertemu di minimarket sore tadi, Kiku mengatakan bahwa namanya berarti bunga krisan dalam bahasa Jepang. Bunga krisan adalah bunga yang umum ditanam di halaman rumah dan ia biasa dikeringkan sebagai campuran teh. Dan, lahirlah haiku seperti ini:

Kolam berkabut. 
Bunga-bunga krisan
di cangkir teh.

Kiku membacanya dan tersenyum. Ia bilang ke Chieko untuk membuatkan dua minuman dari haiku ini. Minuman yang sama tidak masalah, katanya. 

Chieko biasa meramu minuman menggunakan beragam miras olahan khas Pulau Shikoku yang dikenal sebagai pulau penghasil jeruk bermutu seperti iyokan, mikan, atau yuzu. Pulau ini adalah surganya penggemar jeruk. Ada keran air siap minum yang berisi jus jeruk di beberapa sudut Matsuyama. Toko-toko souvenir juga banyak menjual gantungan kunci dan boneka-boneka jeruk. Pak Shinji dan Bu Yuki punya satu pot pohon jeruk di halamannya.

Minuman kami sudah jadi. Dasarnya berwarna jambon dan semakin ke bibir gelas warnanya semakin putih hingga memudar. Mirip seperti bunga krisan yang diselimuti kabut tipis. Ada rasa soda dan mungkin vodka, entahlah saya tak paham-paham amat soal rasa alkohol. Ada rasa manis seperti sirup yang tertinggal di lidah. Canggih betul orang ini, pikir saya. 

Saya jadi membayangkan apa jadinya bila saya menuliskan puisi pendek Sitor Situmorang soal malam lebaran itu. Mungkin saya akan meminum jus ketupat opor dengan campuran alkohol yang diambil dari fermentasi keheningan. Rasa apa kira-kira yang akan tertinggal di lidah?

Hati saya mengaduh tiba-tiba.

Kiku mengambil kertas haiku yang diletakkan di samping gelas. Ia bertanya, apakah boleh menyimpan kertas itu? Saya mengangguk.

“Kamu enggak mau memotretnya?” tanyanya.

“Tidak perlu. Saya sudah mengingatnya,” jawab saya.

Malam itu kami mengobrol sampai pukul 11 malam. Kiku bercerita soal pekerjaannya di Osaka. Ia ikut semacam perkumpulan yang mengurusi orang-orang yang suka mengurung diri. Ada beberapa orang yang ia tahu mengurung diri sendiri di dalam kamar sampai bertahun-tahun. Ia kenal seseorang yang berhasil kembali ke dunia luar setelah mengurung diri sendiri selama setahun. Bulan lalu orang itu mati tenggelam di sebuah sungai, kata Kiku.

“Apakah saya terlihat seperti orang-orang itu?” tanya saya.

“Tidak,” jawabnya.

“Kenapa?”

“Kamu enggak sedang mengurung diri dan kita mengobrol di bar ini.”

Kami kembali menuju penginapan Pak Shinji. Di perjalanan pulang dengan kepala yang enteng tapi kaki yang berat, Kiku bertanya kota mana yang akan saya singgahi setelah Matsuyama. Saya bilang, tidak ada. Saya akan tinggal selamanya di Matsuyama.

Kiku tahu saya sedang melamun.