Cedera itu tidak selalu datang dari tabrakan keras. Tidak perlu ada lawan yang menjatuhkan, tidak perlu ada pelanggaran yang bisa disalahkan. Kadang ia datang justru dari gerakan yang paling biasa: mendarat setelah melompat, berbelok mengejar bola, berhenti tiba-tiba sebelum menendang. Gerakan yang sudah dilakukan ribuan kali. 

Hingga kemudian terdengar bunyi “pop”.

Satu bunyi kecil yang mengubah segalanya. Lutut yang tiba-tiba terasa kosong dan kaki yang tidak lagi bisa dipercaya menahan berat badan sendiri. Bagi pesepakbola, momen itu bukan sekadar cedera. Ia adalah awal dari perjalanan panjang yang tidak pernah benar-benar ada di dalam rencana siapa pun: meja operasi, berbulan-bulan fisioterapi, dan pertanyaan yang terus berputar di kepala sepanjang malam —apakah lutut ini akan pernah kembali seperti dulu?

Riset medis selama dua dekade terakhir menunjukkan pola yang tidak bisa lagi diabaikan: pesepakbola perempuan dua hingga delapan kali lebih rentan mengalami cedera ACL dibanding pesepakbola laki-laki. ACL —Anterior Cruciate Ligament, jaringan ikat sebesar jari kelingking yang menjadi penstabil utama sendi lutut— adalah ligamen yang paling sering robek dalam sepakbola perempuan. 

Dan yang lebih mengusik dari sekadar angkanya: sekitar dua pertiga cedera itu terjadi tanpa kontak fisik sama sekali. Tidak ada benturan. Tidak ada tekel keras. Dalam banyak kasus, tubuh itu sendiri yang menjadi sumber kerentanan cederanya.

Untuk memahami mengapa ini terjadi, kita perlu masuk ke dalam tempurung lutut itu sendiri. Lutut perempuan dan lutut laki-laki, meski terlihat serupa dari luar, menyimpan perbedaan yang cukup untuk mengubah segalanya. 

Perempuan umumnya memiliki sudut lutut yang lebih condong ke dalam —dalam istilah medis disebut Q-angle yang lebih besar— yang berarti setiap kali mendarat dari lompatan, beban tidak terdistribusi merata. Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa ukuran ACL pada perempuan cenderung lebih kecil secara anatomis, yang dapat memengaruhi kapasitasnya dalam menahan beban. 

Lalu ada perbedaan soal bagaimana cara mereka mendarat. 

Saat turun dari lompatan, pemain perempuan cenderung lebih tegak, lutut lebih lurus, dan otot inti lebih sedikit terlibat —berbeda dari pemain laki-laki yang secara naluriah menekuk lutut dan membagi beban ke seluruh tubuh. 

Mengapa pola ini berbeda? Sebagian jawabannya ada di sejarah pelatihan. 

Secara historis, anak perempuan yang tumbuh berolahraga kurang mendapat penekanan pada latihan penguatan otot inti, propriosepsi, dan kelincahan —meski ini mulai berubah seiring semakin banyaknya pelatih kebugaran yang menangani atlet perempuan. Dengan kata lain, sebagian dari pola gerak yang berisiko ini bukan takdir. Ia adalah produk dari sistem pelatihan yang selama ini tidak cukup memerhatikan kebutuhan spesifik atlet perempuan, dan justru karena itu, ia bisa diubah.

Bayangkan, satu perbedaan kecil dalam sepersekian detik itu, dikalikan ratusan kali dalam satu pertandingan, ribuan kali dalam satu musim, bertahun-tahun dalam satu karier. Risikonya menumpuk pelan-pelan, diam-diam, sampai suatu hari terdengar bunyi “pop” yang menyeramkan itu.

Dan, yang paling utama, ada satu variabel lagi yang hampir tidak pernah dibicarakan di ruang ganti manapun: hormon. 

Elastisitas kolagen, bahan dasar pembentuk ligamen, berubah sepanjang siklus menstruasi. Pada fase tertentu, kadar estrogen yang meningkat membuat ligamen lebih lentur dari biasanya sehingga lebih rentan meregang melewati batas aman. Lutut menjadi sedikit lebih “longgar,” dan dalam olahraga yang menuntut gerakan eksplosif seperti sepakbola, kelonggaran sekecil itu bisa cukup untuk menjadi bencana. 

Sistem yang Tidak Dirancang untuk Perempuan

Penelitian soal pengaruh hormon ini masih terus berkembang tapi pertanyaan yang mengikutinya sudah cukup menggelisahkan: jika siklus biologis memengaruhi risiko cedera, mengapa tidak ada satu pun jadwal latihan atau pertandingan yang pernah mempertimbangkannya?

Jawabannya, seperti banyak hal dalam sepakbola perempuan, bermuara pada satu persoalan mendasar: sistem ini tidak dirancang untuk perempuan. 

Sepatu bola, misalnya, selama bertahun-tahun dirancang berdasarkan anatomi, gaya berjalan, dan biomekanik kaki laki-laki sementara karakteristik kaki perempuan berbeda secara signifikan dari semua aspek tersebut. 

Namun, selama bertahun-tahun itu, pemain perempuan hanya mendapatkan versi yang lebih kecil dari sepatu laki-laki, atau model khusus perempuan yang perubahannya hanya kosmetik: warna berbeda, ukuran dikecilkan, tapi struktur dasarnya tetap sama.

Ketika sepatu tidak sesuai dengan anatomi pemakainya, seluruh rantai biomekanik dari kaki hingga lutut terganggu. Dan lutut, seperti kita tahu, adalah titik paling rentan. Belakangan sejumlah jenama mulai mengembangkan sepatu bola yang benar-benar dirancang untuk biomekanik kaki perempuan. Tapi ini baru langkah awal yang datang setelah puluhan tahun pesepakbola perempuan bertanding dengan perlengkapan yang bukan untuk mereka.

Bukan cuma itu. Sejumlah pemain level internasional juga mengidentifikasi kualitas lapangan yang buruk dan rumput sintetis sebagai salah satu faktor risiko penyebab cedera. Kondisi lapangan sering kali sudah menurun karena digunakan sehari setelah pertandingan tim laki-laki, meskipun masih sangat sedikit bukti ilmiah yang dipublikasikan mengenai kontribusi permukaan buatan terhadap tingkat cedera.

Dan, yang patut dikhawatirkan, studi ilmiah tentang teknologi dalam sepakbola perempuan yang pernah dipublikasikan masih sedikit. Bahkan sangat sedikit untuk sebuah olahraga yang dimainkan puluhan juta perempuan di seluruh dunia.

Akibatnya, hampir semua panduan pelatihan, protokol cedera, hingga standar rehabilitasi yang digunakan dalam sepakbola perempuan hari ini didasarkan pada penelitian yang subjeknya adalah laki-laki. Program latihan dirancang untuk respons tubuh laki-laki. Dosis beban dihitung berdasarkan data laki-laki. Waktu pemulihan diestimasi dari pengalaman laki-laki. Ketika tubuh perempuan bereaksi berbeda —dan ia memang bereaksi berbeda— sistem itu tidak punya jawaban yang memadai.

Ketika cedera terjadi pun, kesenjangan itu berlanjut: rata-rata jeda antara cedera ACL dan jadwal operasi pada pemain perempuan adalah 19 hari, dibanding 6 hari pada laki-laki. Dalam beberapa konteks, studi juga menunjukkan adanya perbedaan dalam akses dan kecepatan penanganan cedera, termasuk waktu menuju tindakan operasi, meski hal ini sangat bergantung pada sistem kesehatan dan level kompetisi. 

Semua itu berujung pada angka yang paling berat: rata-rata usia pensiun pesepakbola perempuan yang mengalami cedera ACL adalah 26,7 tahun —hampir tujuh tahun lebih muda dari pemain laki-laki. Pemulihan butuh sembilan hingga dua belas bulan. Dan setelah kembali, risiko cedera kedua meningkat enam kali lipat, menggantung seperti bayangan di setiap sprint, setiap lompatan, setiap pendaratan. 

Bagi banyak pemain, cedera ACL bukan sekadar gangguan sementara. Ia adalah tanda titik dalam sebuah kalimat yang belum selesai.

Ironisnya, ini semua sebagian besar bisa dicegah. Program pencegahan berbasis neuromuskular —latihan kekuatan, keseimbangan, dan teknik pendaratan yang diulang secara konsisten— terbukti menurunkan risiko cedera ACL hingga 90%. Betul, sembilan puluh persen. Protokolnya tidak mahal dan tidak rumit. Hanya perlu pelatih yang paham, alokasi waktu, dan keputusan bahwa kesehatan pemain perempuan adalah prioritas.

Kabar baiknya, ada yang mulai bergerak. Pada 2024, FIFPRO, PFA, Nike, dan Leeds Beckett University meluncurkan Project ACL. Ini adalah kolaborasi multistakeholder pertama yang memetakan kondisi latihan dan kompetisi di klub-klub sepakbola perempuan profesional, dengan target berlanjut hingga 2027. Untuk pertama kalinya, dan ini sangat menggembirakan, pemain perempuan bukan sekadar subjek penelitian. Mereka ikut merancangnya.

Mari kita kembali ke lapangan. Kita sedang melihat seorang perempuan berlari, melompat, mendarat. Lututnya menekuk ke arah yang salah, dan dalam sepersekian detik, sesuatu di dalam tempurung lututnya menyerah.

Adegan itu sudah terjadi ribuan kali di bawah sorot lampu stadion maupun di lapangan yang tidak ada yang menonton. Selama bertahun-tahun kita menyebutnya nasib buruk. Sekarang kita tahu lebih baik dari itu.

Namun, yang belum kita ketahui adalah berapa banyak karier pesepakbola perempuan yang sudah berakhir sebelum waktunya, sebelum semua pengetahuan ini ada, atau sebelum ada yang merasa perlu menerapkannya.

Mungkin itulah pertanyaan yang paling penting untuk terus diingat: bukan hanya bagaimana mencegah cedera berikutnya, tapi juga untuk siapa pencegahan itu akhirnya diprioritaskan —dan mengapa butuh waktu begitu lama untuk sampai ke titik ini.[]

Rujukan:

Mancino et al. (2024)