Dick, Kerr’s Ladies: Ketika Perempuan Pekerja Terlalu Hebat di Lapangan Sepakbola

Alfred Frankland adalah seorang kerani di pabrik manufaktur lokomotif Dick, Kerr and Co di Preston, Inggris. Saat itu, pada 1917, Inggris sedang terlibat dalam kecamuk Perang Dunia 1 dan pabrik tempat Frankland bekerja disulap menjadi pabrik amunisi.

Hari itu suasana pabrik sedang murung. Produksi menurun dan moral para pekerja mulai ambles. Sesuatu perlu dilakukan buat memecah suasana. Dan, salah satu pekerja berseru, 

“Ayo, main bola!”

Para pekerja pun berhamburan, baik laki-laki maupun perempuan, ke luar menuju lapangan pabrik menerima ajakan itu dengan antusias. Dua tim saling berhadapan, pekerja laki-laki melawan pekerja perempuan. Seperti yang sudah dicatat oleh sejarah, tim pekerja perempuan menang. Tim ini bernama Dick, Kerr’s Ladies.

Pertandingan hiburan ini disaksikan Frankland dari jendela ruang kerjanya di lantai atas. Namun, Frankland tak cuma menyaksikan sebuah pertandingan hiburan belaka. Ia melihat sesuatu yang jauh lebih besar dan serius. “Tim ini bisa bikin penuh Stadion Deepdale,” ia bergumam.

Dan, keyakinan Alfred Frankland bukan angan-angan kosong.

Pada Natal 1917, Dick, Kerr’s Ladies mengalahkan Arundel Coulthard Factory dengan skor 4-0 di hadapan 10.000 penonton. “Dick, Kerr’s tidak butuh waktu lama untuk menunjukkan bahwa mereka lebih sedikit terganggu oleh tekanan dibanding lawannya, dan mereka memiliki pemahaman permainan yang lebih baik secara keseluruhan,” tulis sebuah laporan pertandingan yang terbit di Daily Post. 

“Permainan lini depan mereka, bahkan, sering kali sangat mengejutkan bagusnya, satu atau dua dari para perempuan ini menunjukkan kontrol bola yang cukup mengagumkan.”

Sejak hari itu, sebuah mimpi telah menjadi kenyataan dengan taburan cahaya bintang-bintang memenuhi langitnya.

Lily Parr. Seorang sayap kiri yang licin. Gadis berusia 15 tahun dengan sepakan seperti seorang pemain Divisi Satu, tulis The Daily News. Kelak, saat Lily bermain untuk Chorley, ia mematahkan lengan seorang penjaga gawang profesional lewat sepakan dari tepi kotak penalti. Sepanjang kariernya sebagai pemain sepakbola, Lily berhasil mencetak 900 gol.

Jennie Harris. Gadis bertubuh kecil namun lincah. Dikenal sebagai pemain penuh trik dengan kemampuan menggiring bola yang luar biasa.

Alice Kell. Kapten tim dan bek yang tangguh. Ia juga bisa bermain sebagai penyerang tengah. Kelak, ia bikin hattrick di babak kedua ketika melawan St. Helen Ladies di Goodison Park pada 1920 di hadapan 53.000 penonton yang bersorak.

MENJADI RAKSASA LALU DILARANG FA

Alfred Frankland mengambil peran sebagai manajer, promotor, sekaligus pencari bakat buat tim ini. Ia merekrut gadis-gadis ke tim Dick, Kerr’s Ladies dengan iming-iming pekerjaan di pabrik dan cuti berbayar. Kebijakan ini sukses membuat tim Dick, Kerr’s Ladies menjadi raksasa tangguh –tak ada yang bisa menandingi Dick, Kerr’s Ladies yang selalu bermain dengan bubble hat khas di kepala mereka.

Merasa kurang tantangan, Frankland lalu mencari lawan dari luar negeri. Ia mengundang tim Prancis. Pers menyambut kedatangan mereka di Dover. “Ceritakan kepadaku soal gadis-gadis Lanchasire ini,” ucap Madelaine Bracquemond, striker utama tim Prancis, kepada pers.

“Mereka besar, tangguh, dan sangat kuat, n’est-ce pas?”

Prasangka Madelaine tidak keliru. Gadis-gadis Lanchasire ini terlalu mustahil untuk dikalahkan. Mereka menang 2-0 di Deepdale, 5-2 di Stockport, dan bermain imbang 1-1 di Hyde Road, Manchester. Namun, cerita sesungguhnya terjadi di Stamford Bridge, London, di luar wilayah Lanchasire. 

Barbara Jacobs, penulis buku The Dick, Kerr’s Ladies (2004) menceritakan pertemuan dua tim ini dengan apik.

“Para perempuan Prancis yang kecil itu benar-benar berbeda dengan perempuan Lancashire yang besar ini. Orang Prancis bertubuh mungil dan mereka berjalan masuk ke lapangan dengan Le Marseillaise, tangan di samping, pinggul berayun. Mereka kecil, tapi bentuknya anggun sempurna. Perempuan Prancis ini berjalan seperti manekin, sementara perempuan Lancashire berlari keluar dari lorong ganti sambil menendang dan bersorak.”

Barbara melanjutkan ceritanya,

“Anehnya, manekin itu cukup tangguh, dan Jennie Harris yang tingginya hanya 4 kaki 10 inci, terjatuh tak sadarkan diri di awal pertandingan. Bermain dengan 10 orang, mereka kalah 2-1. “Tentu saja kami tidak meremehkan mereka atau membiarkan mereka menang,” kata Alice Kell, berbicara di lorong ganti setelah pertandingan. “Tapi kami tidak mengerahkan tenaga terakhir, bisa dibilang begitu.”

Kekalahan ini bikin Dick, Kerr’s Ladies kena mental. Namun, mereka bangkit dengan cepat. Pada pertandingan berikutnya, mereka membabat tim gabungan Britania Raya dengan skor menyakinkan: 9-1. 

Salah satu pencapaian penting Dick, Kerr’s Ladies adalah semua uang mereka dari hasil pertandingan benar-benar disumbangkan untuk amal. Mereka bekerja keras di pabrik, lalu bermain keras di lapangan hijau untuk mengumpulkan dana bagi tentara dan korban perang –sebuah ironi, mengingat mereka bekerja sebagai pembuat amunisi di pabrik.

Namun, popularitas dan kesuksesan Dick, Kerr’s Ladies membawa sebuah konsekuensi. Pada 5 Desember 1921, FA—yang menyadari bahwa para pemain laki-lakinya kurang menarik ditonton dan kurang dermawan dalam menyumbang—melarang sepakbola perempuan dimainkan di stadion FA. 

Risalah rapatnya berbunyi: “Keluhan telah disampaikan mengenai sepakbola yang dimainkan oleh perempuan, Dewan merasa perlu menyatakan pendapat tegas bahwa permainan sepakbola sangat tidak cocok bagi perempuan dan tidak seharusnya didukung.” 

Stadion-stadion yang berada di bawah kendali FA saat itu adalah satu-satunya yang memiliki kapasitas cukup untuk menampung besarnya minat terhadap pertandingan sepakbola perempuan pada awal 1920-an. Akibat larangan tersebut, pertandingan sepakbola perempuan terpaksa dipindahkan ke lapangan-lapangan yang lebih kecil, dengan sumber daya terbatas dan eksposur yang minim.

Larangan ini berlangsung selama 50 tahun –baru dicabut pada 1971.

Namun, cerita kejayaan Dick, Kerr’s Ladies tak berhenti sampai di situ. “Tim ini akan tetap bermain, jika para penyelenggara pertandingan amal bersedia menyediakan lapangan, bahkan jika kami harus bermain di tanah yang baru saja dibajak,” kata Alfred Frankland dalam sebuah wawancara yang dikutip dalam buku Belles of the Ball (1991).

Frankland lalu membawa Dick, Kerr’s Ladies ke seberang Atlantik, menuju Amerika Serikat. Dalam pertandingan tur di negeri Paman Sam itu, Dick, Kerr’s Ladies sama suksesnya. Bermain sebagian besar melawan tim laki-laki, mereka hanya kalah tiga kali dari sembilan pertandingan. 

“Saya bermain melawan mereka pada 1922,” kenang kiper top Amerika Serikat pada zamannya, Pete Renzulli, dalam sebuah laporan. “Kami adalah juara nasional dan kami benar-benar kesulitan mengalahkan mereka.”

Ketika kembali ke Inggris, situasi telah berubah. Dick, Kerr’s telah menjadi bagian dari English Electric, dan pada 1926 mereka berpisah dengan Alfred Frankland. Di bawah asuhan Alfred Frankland, Dick, Kerr’s Ladies menorehkan catatan yang luar biasa spektakuler: 703 kemenangan dari 752 pertandingan.