Khalida Popal masih berusia delapan tahun ketika para pembenci perempuan maju itu menguasai Kabul, tanah kelahirannya. Keluarganya harus mengungsi ke Pakistan dan baru bisa kembali ke Afghanistan setelah rezim Taliban jatuh pada November 2001.

Ia pulang ke Kabul ketika usianya sudah remaja dan membawa satu keinginan yang sederhana, sekaligus berbahaya: bermain bola.

Ibunya, seorang guru pendidikan jasmani dari suku Pashtun —suku yang sama dari mana Taliban berasal— adalah orang pertama yang mengajarinya menendang bola. Sebuah paradoks kecil yang mungkin menjadi benih dari seluruh hidupnya: perempuan Pashtun yang berpikiran terbuka, mengajarkan putrinya sesuatu yang oleh sebagian besar lingkungan sekitar mereka dianggap hina. 

Dari kaki ibu itu, lahirlah sebuah perlawanan yang butuh puluhan tahun untuk sepenuhnya digenapi.

Bermain bola di Afghanistan bukan sekadar olahraga. Itu adalah pernyataan tegas tentang tubuh, tentang hak, tentang keberadaan. Untuk menghindari pandangan laki-laki, Khalida dan kawan-kawannya berlatih setelah sekolah di halaman terpencil yang sepi. Meski terlarang, semakin banyak gadis yang bergabung. Pelan-pelan, Khalida membawa mereka keluar ke lapangan terbuka, ke bawah langit yang sama yang dulu menyaksikan mereka bersembunyi. 

Melihat perempuan bermain bola, lelaki-lelaki itu melempari mereka dengan batu. Dan dengan kata-kata yang lebih keras pula daripada sebuah batu. Para perempuan itu dilabeli sebagai “pelacur” karena bermain bola.

Khalida tidak bergeser sedikit pun dari tempatnya berdiri.

Pada 2007, dengan dukungan Federasi Sepakbola Afghanistan, Khalida mendirikan tim sepakbola perempuan Afghanistan bersama teman-temannya. Demi keamanan, tim itu berlatih di dalam markas NATO di Kabul. Bayangkan: perempuan-perempuan Afghan berlari dan menendang di bawah perlindungan kekuatan militer asing, di balik kawat berduri, demi melakukan sesuatu yang di belahan dunia lain dilakukan jutaan anak perempuan setiap sore tanpa pikir panjang. 

Pertandingan pertama mereka dimainkan di Pakistan pada 2008. Lawannya adalah pasukan keamanan internasional. Skor akhir: 5–0 untuk Afghanistan. 

Lima gol. Dari perempuan-perempuan yang selama ini dianggap tidak layak menapak lapangan itu.

Tim itu tumbuh. Namanya menyebar. Dan semakin besar tim itu, semakin besar pula target yang terlukis di punggung Khalida. Ia bukan lagi sekadar pemain atau pelatih. Ia telah menjadi simbol. Dan simbol adalah sesuatu yang paling ingin dihancurkan oleh mereka yang takut pada perubahan.

Pada 2011, ancaman pembunuhan terus berdatangan. Khalida memutuskan meninggalkan Afghanistan. Dari Kabul ia pergi ke India, dan terus bergerak karena tak punya visa. Dari India ia melanjutkan ke Norwegia, mencari suaka.

Khalida akhirnya tiba di Denmark. Ia tinggal di kamp pengungsi selama hampir satu tahun sebelum mendapat izin tinggal tetap. Di sinilah lahir sebuah gagasan yang kemudian ia beri nama Girl Power. Dari dalam ruang tunggu yang berbau antiseptik dan ketidakpastian, dari percakapan dengan sesama perempuan yang kehilangan segala sesuatu, Khalida menemukan misi berikutnya: melawan.

Di Denmark, ia kuliah dan meraih gelar manajemen pemasaran internasional dari Business Academy of Denmark. Dan di sela-sela studinya itu, ia mendirikan organisasi nirlaba yang hari ini menjangkau banyak benua bernama Girl Power Organization. Organisasi ini menyediakan mentoring, pendidikan, dan kesempatan berolahraga bagi perempuan dan gadis-gadis pengungsi serta membantu integrasi mereka di Uni Eropa, Inggris, Afrika, Australia, dan Timur Tengah.

Ia juga menjalin kerja sama dengan Hummel, perusahaan pakaian olahraga Denmark, yang merancang seragam untuk tim nasional perempuan Afghanistan —seragam yang menutup tubuh selaras dengan norma budaya, tanpa mengorbankan performa di lapangan. Sebuah kompromi yang cermat: bukan menyerah pada tekanan tapi menemukan jalan yang membuat lebih banyak perempuan bisa bermain.

Lalu, tibalah sebuah hari di bulan Agustus 2021 itu.

Khalida terbangun di lantai apartemennya dekat Kopenhagen. Tubuhnya basah oleh keringat, tangannya gemetar, napasnya tersengal. Ia ambruk kena serangan panik. Tak bisa bicara. Di layar di mana pun matanya jatuh malam itu, berita-berita terus berdatangan: Taliban kembali menguasai Kabul.

Telepon genggamnya bergetar tanpa henti. Para pemain timnas perempuan Afghanistan mengirim pesan: tolong kami. Salah seorang dari mereka menulis, seperti yang dicatat jurnalis Cristina Giudici dalam laporannya,

“Aku punya senjata. Kalau mereka datang, aku akan menembak diriku sendiri.”

Khalida segera bergerak di tengah kepanikan itu. Ia menghubungi siapa saja yang bisa dihubungi, mulai dari aktivis, diplomat, jurnalis, organisasi hak asasi manusia, federasi sepakbola, siapa pun yang mau mendengar. Ia mungkin takut, tapi ia tidak berhenti. Ia menyarankan para pemain untuk menghapus akun media sosial mereka, menghancurkan perlengkapan dan jersey mereka, dan bersembunyi. Sementara itu, di luar Afghanistan, ia membangun jalur evakuasi dari jaringan yang selama bertahun-tahun ia rajut dengan sabar.

Hasilnya: lebih dari 600 perempuan dan gadis —pemain timnas senior, tim muda, tim pengembangan— beserta anggota keluarga mereka berhasil dievakuasi dari Afghanistan. Sebuah penerbangan dari Kabul mendarat di Bandara London Stansted pada 18 November 2021, membawa para pemain sepakbola perempuan Afghanistan ke tanah yang aman. Para pemain itu kini tersebar di Australia, Portugal, Albania, Amerika Serikat, dan berbagai penjuru Eropa menjalani hidup baru, di negara-negara yang namanya dulu mungkin hanya mereka kenal dari atlas sekolah.

Tapi perjuangan tidak selesai dengan evakuasi. Evakuasi hanya berarti selamat. Khalida, dan para pemain lainnya, ingin lebih dari sekadar selamat. Mereka ingin bermain. Mereka ingin menjadi Timnas Afghanistan, bukan sekadar sekumpulan pengungsi yang kebetulan bisa menendang bola.

Selama hampir lima tahun, keinginan itu terbentur dinding regulasi. FIFA selama ini mengharuskan sebuah timnas diakui oleh federasi sepakbola negara asalnya. Sementara federasi Afghanistan, yang beroperasi di bawah pengaruh Taliban sejak 2021, menolak mengakui program perempuan —dan dengan demikian menutup pintu kompetisi internasional bagi para pemain itu. 

Khalida terus melobi. Terus berbicara di forum-forum internasional. Terus hadir di setiap pertemuan yang membuka sedikit celah. Pada Mei 2025, FIFA menyetujui pembentukan Afghan Women United —sebuah tim pengungsi yang didukung FIFA sebagai bagian dari program percontohan satu tahun. Ini sebuah langkah tapi belum cukup. Tim itu boleh bermain tapi belum diakui secara resmi sebagai representasi Afghanistan. Mereka masih bermain dengan identitas yang setengah-setengah: ada, tapi seolah tidak dihitung. 

Kemudian, pada 29 April 2026, di sebuah rapat Dewan FIFA di Vancouver, Kanada, sejarah berubah.

Dewan FIFA menyetujui amendemen monumental terhadap Regulasi Tata Kelola FIFA, yang memungkinkan pemain perempuan Afghan, termasuk anggota skuad Afghan Women United, untuk mewakili negaranya dalam pertandingan internasional resmi dan kompetisi FIFA. Aturan baru ini memberikan FIFA kewenangan untuk mendaftarkan dan mengakui sebuah timnas dalam kondisi luar biasa, ketika asosiasi anggota tidak mampu melakukannya sendiri. 

“Ini adalah langkah yang kuat dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam dunia olahraga,” kata Presiden FIFA Gianni Infantino. “Dengan memungkinkan perempuan Afghan untuk berkompetisi mewakili negaranya dalam pertandingan resmi, kami mengubah prinsip menjadi tindakan.”

“Selama lima tahun, kami diberitahu bahwa timnas perempuan Afghanistan tidak akan pernah bisa berkompetisi lagi karena para lelaki yang menguasai negara kami tidak mengizinkannya,” kata Khalida Popal merespons keputusan itu. 

“Hari ini, kekuasaan Taliban tidak lagi menjangkau dunia sepakbola internasional. Ini bukan akhir dari apartheid gender di negara kami, tapi ini adalah tanda bahwa perjuangan belum selesai. Ketika kami kembali ke lapangan sebagai Timnas Perempuan Afghanistan, kami mengirim pesan kepada saudara-saudari kami bahwa kami bersama mereka, dan bahwa tidak ada yang mustahil.”

Seorang pemain, Zainab Mozaffari, menyuarakan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kegembiraan sportif ketika ditanya soal keputusan FIFA ini: “Kami sudah lelah disebut sebagai pengungsi.”

Khalida Popal kini tinggal di Denmark. Ia telah meraih FIFPro Award, Peace and Sport Special Jury Prize, UEFA Equal Game Award, dan Lantos Human Rights Prize, di antara sejumlah penghargaan bergengsi lainnya. Pada 2024, ia menerbitkan memoarnya, My Beautiful Sisters, ditulis bersama jurnalis Suzanne Wrack dari The Guardian. The Daily Telegraph memasukkannya dalam daftar buku olahraga terbaik tahun itu. 

Tapi penghargaan dan buku adalah cermin dari masa lalu. Apa yang menggerakkan Khalida adalah masa depan —para perempuan yang masih bersembunyi di Afghanistan, yang sudah mengubur sepatu bola mereka di dalam tanah agar tidak ditemukan, yang mengirim pesan singkat di malam hari dengan pertanyaan paling sederhana sekaligus paling berat: apakah kami masih ada?

“Ketika dunia melupakan Afghanistan, kami akan terus bicara, “katanya. “Kami adalah suara dari perempuan-perempuan yang tak lagi bisa bersuara.” 

Di suatu lapangan di Denmark, jauh dari Kabul yang telah mengubur impian mereka, perempuan-perempuan dengan nama-nama Afghan itu berlari lagi. Kali ini dengan bendera yang sah dan lagu kebangsaan yang boleh mereka nyanyikan keras-keras. Mereka bermain sepakbola dengan bebas. Tidak perlu bersembunyi.

Dan Khalida Popal, berdiri di situ.[]